Jum'at, 30 Ramadhan 1447H
Ngaji Jum'at Pagi
Masjid Baitussaid Talok
Perbedaan adalah rahmat, justru jika saling menyalahkan tidak sesuai dengan semangat idul fitri. Tidak perlu saling menyalahkan karena semuanya punya dasar ilmunya sendiri-sendiri. Harusnya yang kita renungkan adalah bagaimana memaknai hari-hari terakhir bulan Ramadhan.
Dulu malam lailatul qadr diumumkan melalui pengetahuan Rasulullah, namun ada sahabat yang bertengkar akibat informasi kapan lailatul qadr. Lalu Allah mengambil pengetahuan Rasulullah mengenai kapan lailatul qadr. Maka Nabi berpesan sepuluh malam terakhir mencari malam lailatul qadr.
Ada sahabat yang senantiasa berdo'a kepada Allah semoga seluruh amalan ibadahnya diterima oleh Allah setelah 6 bulan pasca Ramadhan. Setelah itu beliau melanjutkan do'a agar bisa bertemu Ramadhan selanjutnya.
Sahabat Umar pernah berpesan pada kita yang telah berpuasa sebulan, qiyamul lail sebulan, maka mulai hari ini mari kita berdo'a agar amalan kita diterima Allah dan menunaikan zakat fitrah agar ibadah kita sampai kepada Allah.
Zakat fitrah itu ada waktu wajib saat malam takbiran dan waktu sunnahnya adalah setelah subuh sampai sholat ied. Tapi yang paling aman adalah menunaikan zakat fitrah sebelum Ramadhan usai.
Hari raya itu yang penting bukanlah baju baru. Hari raya itu tentang ampunan dosa kita, hari raya itu adalah saat ketaqwaan kita kepada Allah bertambah. Jangan setelah puasa malah seperti ayam yang dilepaskan hingga berlebihan dalam banyak hal.
Setelah bulan Ramadhan, sholat wajib kita lebih rajin, membaca Al-Qur'an kita terus berjalan. Hari raya itu bukan sekedar hiasan pakaian maupun kendaraan, bukan tentang tampil terbaik di hadapan manusia.
Hari raya itu bagi orang-orang yang diampuni segala dosa-dosanya.
Dulu, sahabat saat akhir Ramadhan itu menangis, karena belum pasti bisa bertemu Ramadhan tahun depan, belum pasti ibadah diterima atau tidak.
Maka hati-hatilah dengan huru-hara malam takbiran saat ini yang berlebih-lebihan.
Ada hadist Nabi yang berpesan hidupkanlah malam hari raya dengan dzikir, agar saat semua orang kebingungan saat sakaratul maut, dia tetap dibimbing agar tetap iman saat sakaratul maut.
Karena saat sakaratul maut ada syaitan yang membimbing kita kepada kekufuran. Maka marilah kita menghidupkan malam dengan berdzikir saat malam takbiran idul fitri dan idul adha agar tidak mati hati kita saat sakaratul maut, agar tidak bingung saat ditanya malaikat maut.
Cara menghidupkan malam hari raya adalah diantaranya dengan tidak tidur sepanjang malam dengan melaksanakan ibadah. Ada juga pendapat Imam Syafi'i saat di Madinah, tidak sepanjang malam menghidupkan malam, ada waktu untuk pulang dan istirahat. Ada pula pendapat bahwa dengan melaksanakan shalat maghrib, isya' dan subuh berjamaah itu sudah termasuk menghidupkan malam takbiran.
Jangan sampai kegembiraan menyambut hari raya membuat kita lalai mendirikan sholat berjamaah.
Satu bulan penuh digembleng dengan bulan Ramadhan hendaklah menambah ketaqwaan kita.
