Wahai anakku, nasihat itu mudah. Tapi yang sulit itu adalah menerima nasihat. (Imam Ghazali )
Sebagai santri, buku yang kita baca, ilmu yang kita dapat InsyaAllah kita niatkan agar dapat kita amalkan.
- Ibu Nyai Erik
Ngaos online 1 Ramadhan 1447H
PP Al-Azkiya' bersama Ibu Nyai Erik
Biasanya memang hal-hal yang dilarang itu dicenderungi oleh hawa nafsu. Karena sesungguhnya nasehat itu bagi orang-orang yang mengikuti hawa nafsu adalah sesuatu yang pahit (sulit). Khususnya nasehat bagi orang-orang yang menuntut ilmu hanya karena formalitas (ijazahnya saja). Orang yang menyibukkan diri dalam memprioritaskan nafsu dan prestasi dunia saja itu juga dimaksudkan menuntut ilmu untuk formalitas. Bagi yang hanya menuntut ilmu secara formalitas dikatakan oleh Imam Ghazali akan sulit menerima nasihat.
Belajar itu hendaknya untuk memahami ilmu dan bagaimana bisa mengamalkan ilmu. Tidak ada artinya jika ilmu tidak dimanfaatkan.
Ketika seseorang memperoleh ilmu tanpa diamalkan, ada dalil bagi mereka yaitu Rasul bersabda "Paling berat siksanya manusia pada hari kiamat adalah orang yang alim, orang yang berilmu oleh Allah tidak sanggup memberi manfaat terhadap ilmu tersebut."
Jadi, setiap ilmu yang kita peroleh bisa kita amalkan saat itu juga, hendaklah kita langsung berusaha mengamalkannya.
Dalam tidur ada yang memimpikan Imam Al-Juned dimana dia menanyakan kabar kepada Imam Juned. Lalu menurut Imam Juned ketika telah meninggal yang memberi manfaat baginya adalah rakaat-rakaat di tengah malam. Ini bukan artinya serta merta ibadah kita yang lain tidak bermanfaat, tapi artinya nantinya yang paling bermanfaat untuk kita adalah ILMU YANG KITA AMALKAN. Imam Juned berpesan juga bahwa ilmu saja tanpa diamalkan tidak akan bisa berbuat apa-apa.
Imam Ghazali mencontohkan, andaikan ada kondisi seseorang berada di dalam hutan dan dia bersama (memiliki) sepuluh pedang dan dia juga senjata-senjata lain. Orang tersebut terkenal pemberani dan ahli perang, lalu ada harimau besar dan ganas yang mendatanginya. Bagaimana keadaan dia? Ternyata dia diam saja, dia padahal bisa menggunakan senjata. Apakah jika seperti itu dia bisa selamat? Apakah pedang-pedang itu bisa menghalau sendiri harimau itu? Tanpa tangan orang yang menggerakkan pedang, maka pedang tidak ada gunanya, meski pedang itu teramat tajam.
Ilmu yang kita peroleh tidak akan berguna jika kita tidak mengamalkan ilmu tersebut. Seandainya seseorang telah membaca 100 ribu makalah ilmiah dan telah mempelajari dengan serius, tapi dia tidak mempraktekkan apa yang dia baca maka tidak ada manfaat apapun kecuali dengan mengamalkannya.
Seperti orang yang sakit itu jika ingin sembuh obatnya harus diminum, jangan hanya dipandangi saja. Nah, jadi semuanya itu bergantung pada bagaimana kita mengamalkan sesuatu.
Sebagai santri, buku yang kita baca, ilmu yang kita dapat InsyaAllah kita niatkan agar dapat kita amalkan.
Kalaupun kita bergelut dengan arak, dalam artian katakanlah kita bekerja di tempat pembuatan arak, jika kita tidak meminumnya maka kita tidak akan mabuk. Sama dengan orang berilmu tadi, sebanyak apapun ilmu jika tidak digunakan ya tidak ada efeknya. Katakanlah kita selama 100 tahun membaca seribu kitab, maka tidak ada diantara kitab itu yang menjadikan kita orang yang memperoleh rahmatnya Allah kecuali dengan mengamalkannya.
Kita harus beriman dan beramal sholeh, kita harus belajar dan mengamalkan ilmu. Nanti akan dihadiahkan oleh Allah surga firdaus bagi mereka.
Akan datang suatu masa dimana orang-orang mengabaikan sholat dan mengikuti hawa nafsunya. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan yang berbuat amal soleh (kebaikan).
Intinya kita diingatkan oleh Imam Ghazali untuk mengamalkan ilmu yang kita peroleh agar ilmu itu bermanfaat.

No comments:
Post a Comment