Saturday, May 8, 2021

Monolog Malam

Malam itu, di sudut paling tidak masuk akal untuk diam sendirian. Dia terpekur menatap kosong langit tak bertepian. Monolog malam itu dimulai, ditemani keheningan malam yang sungguh tak nyaman. 

... 

"Apakah aku memang sedang di buang oleh keadaan yang aku ciptakan sendiri?"

 ... 

"Mungkin karena aku terlalu angkuh terhadap keadaan yang bahkan belum tentu bisa aku taklukkan."

... 

"Tapi bukankah aku sudah berusaha dan terus berusaha?"

... 

"Sungguh aku terlalu banyak berangan dan lupa memijak tempat yang aman."

... 

"Kemana aku akan pergi setelah semua kekacauan yang aku buat ini?"

... 

"Kembali pulang, tapi apakah pulang akan menyembuhkan luka dan malu yang aku miliki?"

... 

Itulah kalimat demi kalimat yang sedang dia gumakan pada dirinya sendiri. Runtutan pertanyaan dan pernyataan sepihak. Membuat siapa saja yang tak paham bisa kacau balau argumentasinya dalam semalam. Dia memang diam, tapi sungguh, di dalam dirinya sangat kacau. Satu pertanyaan muncul, beberapa pernyataan mencerca pertanyaan itu. Kemudian hadir lagi pertanyaan baru, diikuti rutukan baru, diikuti penyesalan baru. Ah, sungguh pilu mendengar semua keramaian itu. Dikatakan pilu karena keramaian itu terbungkus rapi dalam keheningan serta tetes air mata sunyi. 

... 

Kegelisahan dan keraguan yang dibungkus keheningan sungguh mematikan. Ditambah ketakutan akan banyak hal akan membuat dia semakin kalut dan berantakan. Maka dia harus segera disadarkan oleh nurani yang berkata lirih namun jernih. Perlahan dia mengusap air mata dan mulai mendengarkan nuraninya bicara. 

... 

"Allah tak mungkin membebankan sesuatu yang tidak bisa ditanggung hamba-Nya."

... 

"Keputusan Allah pasti yang paling baik, tolong jangan kamu ragukan keputusan-Nya."

... 

"Berusaha lagi, iringi dengan do'a yang semakin keras di sepertiga malam dan di waktu-waktu yang mustajab."

... 

"Ayolah, hidup kita bukan hanya di dunia, masih ada alam selanjutnya yang akan kamu hadapi."

... 

"Allah selalu memberikan ujian dan itu tanda cinta-Nya kepada hamba-Nya."

... 

"Pulanglah, ridho Allah ada beserta ridho dari kedua orang tua."

... 

Hening kembali menyelimuti jiwanya yang sedang kelam. Air matanya menetes hingga membasahi bajunya. Apa boleh dikata, sekuat-kuatnya dia berusaha untuk sadar, pasti masih ada beberapa kekecewaan yang membutuhkan pelampiasan. Tapi sungguh dia mencoba menarik sesimpul senyuman. Senyuman terima kasih pada Allah karena masih memberikan kekuatan pada nuraninya untuk berbicara. 

... 

"Baiklah, mari menangis untuk malam ini, mari habiskan segala penyesalan itu."

... 

"Aku sadar semua penyesalan ini percuma, tapi paling tidak aku sadar Allah selalu sayang sama aku."

... 

"Lain kali mari berusaha dengan dosis yang tepat, usaha dan do'a berjalan beriringan."

... 

"Semoga esok Allah kembali memberi kesempatan yang baik bagi ku untuk berjuang dengan lebih keras."

... 

"Mari berdamai dengan penyesalan dan kegagalan masa lalu."

... 

"Terima kasih ya sudah berjuang sejauh ini, selepas ini mari berjuang lagi."

... 

Akhirnya dia memeluk dirinya sendiri, dia membungkus dirinya dengan kehatangan tangan yang memeluk pundaknya sendiri. Dia terima sekaligus menangisi kegagalan dengan lapang dan berusaha tersenyum atas segala kenyataan. Dia mulai melangitkan do'a demi do'a yang dia yakini pasti didengarkan oleh Tuhan. Dia kembali mensyukuri segala apa yang dia punya dan berusaha mempertahankan senyuman sambil terus mengusap air mata. 

Thursday, April 15, 2021

Idealisme dan Perjuangan Harus Berjalan Bersama


 GURU AINI

(Prekuel Novel Orang-Orang Biasa)

Karya : Andrea Hirata

 

Novel ini kembali mengingatkan aku bahwa menjadi seseorang yang idealis itu tidak masalah. Akan menjadi masalah bila kita menjadi seorang idealis yang pemalas dan patah semangat. Dari Guru Desi aku merasa mendapatkan bisikan bahwa untuk menjadi guru butuh pengorbanan dan pengabdian seutuhnya. Dari Aini aku bisa belajar arti dari ketekunan dan pantang menyerah begitu saja. Kemudian dari keseluruhan cerita yang dibawakan oleh Andrea Hirata aku bisa memahami bahwa kehidupan ini amatlah berwarna.

Alur novel ini adalah alur maju, perlahan namun pasti membuat kita kembali menelusuri bagian terpencil dari sebuah pulau di daerah Sumatra. Di awal bagian penulis menyuguhkan cerita mengenai Guru Desi yang sangat mencintai Matematika dan sangat idealis. Guru Desi sejak masih di bangku sekolah telah terobsesi dengan Matematika dan sejak itu dia mengukirkan cita-citanya sebagai guru Matematika. Kemudian mimpinya terwujud, di usia 18 tahun dia merantau untuk menjadi seorang guru di tempat yang sangat terpencil.

Kemudian Guru Desi berjanji akan menemukan murid yang jenius Matematika di desa terpencil tersebut. Tahun demi tahun Guru Desi menanti, kemudian muncul lah Debut Awaludin. Seorang murid yang sangat jenius dan imajinatif tetapi sangat naif. Debut sungguh membuat Guru Desi terpesona sekaligus kecewa bukan kepalang. Semangat Guru Desi perlahan redup tapi janji yang telah dia ikrarkan tidak boleh dan tidak bisa dia langgar. Guru Desi tetap gigih mengajar Matematika, tapi perlahan Guru Desi menjadi sosok guru yang dingin, jahat dan ditakuti.

Tahun kembali berganti, Guru Desi telah menjadi wanita dewasa seutuhnya, namun karena janjinya belum bisa dia tepati dia seakan berjalan ditempat, mengulangi rutinitas yang sama. Memarahi murid-murid dan merasa frustasi setiap selesai menilai hasil ujian. Kemudian penulis menyuguhkan karakter yang telah ditunggu-tunggu, Nuraini binti Syafrudin. Seorang gadis polos, lugu dan sangat takut terhadap Matematika, dikisahkan bahwa Aini mengalami sakit perut hebat saat jam pelajaran Matematika. Perihal ayahnya yang jatuh sakit dan keluarganya tidak mampu membiayai pengobatan ayahnya, Aini bertekad kuat untuk menjadi dokter.

Iya, kisah kemudian berlanjut dengan perjuangan Aini untuk mewujudkan cita-citanya itu. Aini dengan sangat berani memilih untuk datang kepada Guru Desi, dia meminta agar dia bisa belajar di kelas Guru Desi apapun konsekuensinya. Guru Desi awalnya sangat sanksi dengan niat dari Aini, Guru Desi berhipotesa bahwa niatan Aini untuk belajar Matematika hanya efek sesaat karena sakit yang diderita ayahnya. Akan tetapi hipotesa Guru Desi mulai terpatahkan saat Aini mampu bertahan selama dua pekan setelah pindah ke kelas Guru Desi.

Dalam novel ini penulis menyuguhkan sudut pandang dari Guru Desi dan Aini, sehingga kita sebagai pembaca bisa memahami dengan baik bagaimana rasa frustasi yang dialami oleh murid dan guru tersebut. Guru Desi yang selama lima pekan marah-marah hingga muntab karena Aini tak kunjung memahami konsep Matematika dasar. Dan Aini yang selama lima pekan semakin frustasi dan ketakutan bila dia sewaktu-waktu dikeluarkan dari kelas Guru Desi. Penulis kemudian kembali mengingatkan kita bahwa hal apapun yang kita inginkan akan terwujudkan jika kita mampu bertahan dalam ritme juang. Guru Desi terus memikirkan cara bagaimana dia bisa mengajari Aini dan Aini terus memperbaharui niat dan tekat untuk bertahan dan terus belajar dari Guru Desi.

Pada akhirnya, Guru Desi menemukan cara untuk mengajarkan Matematika kepada Aini, yaitu dengan metode pendekatan Kalkulus. Tak dapat dinanya, ternyata benar, kemampuan berfikir Aini dapat dipancing dari pendekatan Kalkulus. Kemudian Aini sangat amat bahagia karena pada akhirnya ada ilmu yang bisa dia pahami. Aini semakin bersemangat untuk belajar, dia tuliskan rumus-rumus Matematika di dinding kamarnya, dia pelajari rumus itu, dia renungkan rumus itu dan dia kerjakan soal yang diberikan Guru Desi. Di sisi lain, akhirnya Guru Desi merasa motivasi mengajarnya kembali hadir. Setelah membuat seoarang Aini yang awalnya buta dengan Matematika hingga membuat Aini memahami Matematika membuat Guru Aini kembali menjadi versi terbaik dari dirinya.

Beberapa kutipan yang aku sukai dari Novel ini :

·   “Pendidikan memerlukan pengorbanan, Bu. Pengorbanan itu nilai tetap, konstan, tak boleh berubah.”

·         Math is like respect, you have to give it, to get it!

·         “Waktu menantang pertempurang yang takkan pernah kita menangkan.”

·         “Aku anak ayahku, Bu, ayahku adalah tanggung jawabku.”

·   “Kurasa guru yang baik adalah guru yang dapat memacu kecerdasan muridnya. Guru yang lebih baik adalah guru yang dapat menemukan kecerdasan muridnya. Guru terbaik adalah guru yang tak kenal lelah mencari cara agar muridnya mengerti!”

·  “Dalam perjalanan yang panjang menuju keikhlasan,kita akan menemukan harapan.Dalam perjalanan yang berliku-liku menuju pengorbanan, kita aka menemukan keberanian. Namun kejujuran pada diri sendiri, akhirnya kita akan pulang.”

·  “Aku tak pandai menulis puisi seindah Guru Desi. Namun pada dunia ingin kukatakan bahwa namaku Aini, dan Guru Desi adalah guruku, Guru Desi adalah guru Aini. Itulah puisi paling indah di dunia ini bagiku.”

·    “Dalam kesepian yang getir dan menyesakkan, tersemat sesuatu yang paling didambakan manusia ... kemerdekaan.”

 

 

Tuesday, January 26, 2021

Perihal Fisika dan Matematika


Selepas mengerjakan soal fisika SMA bab Fluida dan kemudian tiba-tiba lompat ngerjakan soal matematika SMA ada satu ide tiba-tiba muncul. Ternyata bagi sebagian siswa, matematika dianggap lebih mudah karena dengan rumus yang lumayan sedikit bisa menyelesaikan beberapa soal kompleks. Dengan skill otak-atik matuk, asalkan memenuhi kaidah aturan dasar dan ditambah improvisasi jawaban bisa ditemui. Beda kalau sama fisika, rumusnya banyak, soalnya bervariasi, beda bab beda rumus, menghafalkan rumusnya juga susah. Makanya banyak yang menyerah gitu aja sama fisika. 

Akupun yang masih juga kesusahan sama fisika merasakan hal yang sama. Harus sabar belajar fisika itu, susah sekali kalau belajar fisika tapi maunya instan. Kalau mau cepet dapat nilai bagus dalam fisika mudah sih, tinggal ngehafalin rumus, benar memasukkan rumus, jawaban ketemu, selesai. Tapi kalau dalam satu paket soal ada banyak soal dengan varian rumus berbeda yang harus digunakan bagaimana? Kemudahan menghafal rumus kan beda sama kemudahan menghafalkan kosa kata. Rumus terdiri dari berbagai variabel dan bila harus menjlentrehkan rumusnya satu-satu ya lelah dong? Belum lagi kalau tidak faham makna fisisnya, alhasil rumus hanya dihafal lalu hilang begitu saja selepas ujian.

Lalu harus bagaimana dong? Matematika perlu skill dan pengalaman, fisika perlu banyak pemahaman mendasar. Keduanya sama-sama ribet dan butuh waktu buat belajar. Kembali lagi, semua hal di dunia ini butuh perjuangan, dan karena manusia itu tempatnya "lupa", maka harus sering-sering "mengingat" kembali. Tapi mana yang sesungguhnya lebih sulit? Matematika atau fisika? Ya mohon maaf, kalau pertanyaan seperti itu akan cenderung dijawab lebih sulit fisika.

Tetapi nyatanya dalam fisika teori (theoritical physics) matematika dan fisika bisa berjalan berdampingan. Saling menyokong satu sama lain, saling menguatkan satu sama lain dan saling membutuhkan. Begitulah memang, ada kalanya dimana kita harus lebih bersabar untuk tahu kenikmatan dari suatu ilmu. Perlahan namun pasti, terus berusaha belajar pasti membuahkan hasil. Kesabaran, ketekunan dan rasa ingin tahu menjadikan pertanyaan terjawab sedikit demi sedikit, lalu membuat pertanyaan lain muncul silih berganti.

Tuesday, December 22, 2020

Apresiasi

 


Dalam riuh redam kenangan yang meminta dikenang

Hati dan jiwa merasakan banyak rasa secara bersamaan

Ada kisah sedih yang pernah singgah menggelayuti hari

Ada kisah bahagia yang tercipta dan menerangi hati

    Waktu berjalan begitu cepat bagi mereka yang telah usai

    Seakan kemarin baru memulai dan sekarang sudah selesai

    Ketika banyak hal telah dituntaskan maka wajar saja beban berkurang

    Kemudian bila menempuh jalan baru maka sudah resiko cobaan bertambah

Karena nyatanya hidup ini adalah tentang perjalanan

Bukan hanya perihal hidup lalu mati dalam kekosongan

Allah menciptakan ruang-waktu untuk kita gunakan, bukan untuk disia-siakan

Maka cara terbaik untuk bersyukur adalah dengan terus berusaha 

    Bila besok jalan yang kita lewati lebih sulit, jangan mudah menyerah

    Bila besok kesempatan yang datang memang terbatas, pastikan semua ditebas tuntas

    Satu hal yang penting, gali terus sumber rezeki dengan benar

    Selalu mendekat kepada Allah agar tidak terlena keadaan

Tuesday, December 15, 2020

Dialektika Senja


Senjaku kali ini ditemani rinai hujan

Senjaku kali ini dihiasi tetes air mata

Amarah berusaha aku redam sekuat tenaga

Segala kecamuk dalam hati aku coba lawan

            Akhirnya aku tergugu di pojok ruangan

            Memeluk lutut, menyerap angin sore yang hampa

            Sungguh aku hanya ingin yakin kalau aku tidak apa

            Tapi hati dan jiwaku nyatanya sedang terluka           

Allah, Allah, Allah

Akhirnya hanya kepada Allah aku berserah

Akhirnya hanya kepada Allah aku meminta

Akhirnya hanya kepada Allah segala muara

            Pergulatan senjaku kali ini semoga bisa aku menangkan

Semoga segala kekhawatiran tidak jadi kenyataan

Segala lelah dan kesah aku sandarkan pada Allah semata

Aku yakin Allah punya jawaban terbaik atas segala tanya

Saturday, December 12, 2020

Membasuh Luka, Menyemai Semangat

 


Memori adalah hadiah dari waktu yang berlalu

Kadang perih mengenang lagi luka dari masa lalu

Tapi itu perlu, agar kita bisa mengingat kembali perjuangan kala itu

Kadang terlena mengingat kebahagiaan yang pernah tertoreh waktu itu

Tapi itu perlu, agar kita bisa mensyukuri kebahagiaan akan saat itu


Membasuh luka, menyemai semangat, tidak mudah memang

Tapi kita perlu luka untuk menyadari sekuat apa kita bisa bertahan

Berusaha terus memperbaharui niat dalam hidup yang kita perjuangkan

Mengobati diri dari kekecewaan dan kekalahan, tidak mudah memang

Tapi kita butuh terjatuh agar bisa kuat dan berdiri kokoh dan tegap


Terus bersyukur atas yang kita miliki, atas yang diberikan kepada kita

Terus berusaha yang terbaik untuk mengokohkan diri dan memperkuat usaha

Terus meminta dan bergantung yang terbaik kepada Sang Pemilik Alam Raya

Bila sekarang masih belum bisa menyelesaikan, maka cobalah lagi sampai bisa

Bila sekarang ingin menyerah, ingat lagi semangat awal saat memulai pekerjaan


Belajar dari Perjalan Hidup Ratu Catur dari Mini Series "The Queen's Gambit"

 Sebuah mini series dari Netflix bergenre fiksi-biografi yang diangkat dari novel berjudul sama yaitu The Queen's Gambit. Menarik perhatianku karena ini adalah kisah dari sang Grandmaster catur yang mana dia seorang perempuan, yatim dan masih sangat muda. Menjadi sebuah tantangan karena aku mencoba memahami keseluruhan series ini dalam subtitle berbahasa inggris.

Poster Film


Tokoh utama dalam kisah ini adalah Elizabeth Harmon, panggilannya Beth. Episode pertama dimulai dengan Beth yang kehilangan ibunya yang mati bunuh diri dengan menabrakkan mobilnya ke truk. Beth yang masih berumur sekitar sembilan tahun tersebut kemudian masuk ke panti asuhan. Beth yang memang aslinya pendiam, semakin pendiam dan menutup diri ketika berada di panti asuhan. Hanya ada satu teman Beth, dia bernama Jolene. Saat siang hari setiap anak diberikan satu pil vitamin dan satu pil obat penenang, nah dari sini Beth disarankan oleh Jolene untuk meminum pil penenang tersebut sebelum tidur agar bisa mendapat "efek" yang lebih baik. 

Hari di panti asuhan Beth lewati dengan kebosanan, sampai dia bertemu dengan Mr Shaibel (seorang penjaga panti asuhan) yang sedang bermain catur seorang diri di basement panti asuhan. Beth ingin bermain catur, tetapi serta-merta ditolak oleh Mr Shaibel, karena catur adalah permainan untuk pria dewasa, bukan untuk anak kecil apalagi seorang perempuan. Tapi Beth sangat kekeh dan sangat ingin bermain catur, kemudian Mr Shabiel mengizinkan Beth bermain, dan seperti dugaan hanya dengan beberapa gerakan Beth kalah. Beth adalah anak yang pendiam memang, tapi saat dia menginginkan sesuatu dia akan berusaha untuk mendapatkannya. Dia berlatih sendiri, membayangkan papan catur ada di langit-langit kamar dan bermain catur dalam imajinasinya. Akhirnya Beth mampu mengalahkan Mr Shaibel, kemudian Beth diberikan sebuah buku tentang Catur moderen, bukunya tebal dan langsung dilahap habis oleh Beth.

Kemudian Mr Shaibel mengundang guru catur dari SMA setempat untuk melihat kemampuan bermain Beth. Guru tersebut sangat terkesan dan mengajak Beth untuk bermain simultan (bermain melawan beberapa orang sekaligus) di SMA, dan Beth memperoleh izin dari ketua panti asuhan. Oh iya, ada satu hal buruk yang dilakukan Beth, yaitu dia sudah mulai kecanduan dengan pil penenang yang dia kumpulkan dan dia minum sebelum memainkan catur dalam imajinasinya. Beberapa hari sebelum dia berangkat ke SMA untuk bermain catur simultan dia tidak lagi mendapatkan jatah pil penenang. Saat hendak berangkat ke SMA Joline memberinya dua pil penenang, dan itu memang membantu Beth dalam mengalahkan kedua belas siswa SMA dalam permainan catur simultan.

Beth sangat senang dan menceritakan kemenangannya dengan sangat semangat kepada Mr Shaibel. Sayangnya dia telah kecanduan pil penenang untuk memberikan dia adrenalin dalam memainkan catur. Beth pun nekad mencuri setoples besar obat penenang dari ruangan farmasi dan naasnya Beth tertangkap basah. Sejak itu Beth tidak diperbolehkan pihak panti asuhan untuk meminum obat penenang dan bermain catur. Enam tahun berlalu, Beth remaja diadopsi oleh keluarga Wheatly, dia pindah ke rumah yang besar, dia punya kamar sendiri dan dia juga pindah sekolah. Di SMA barunya Beth dirundung karena pakaiannya yang kuno, mantan anak panti asuhan dan pendiam. Di SMA barunya dia juga tidak memiliki teman, tidak ada klub catur, dia hanya bisa membaca buku biografi pencatur profesional dari perpustakaan sekolah. Saat berbelanja di mall Beth sangat ingin membeli papan catur, tapi ibu angkatnya tidak memberikan dia uang dan meminta Beth menabung sendiri.

Ternyata rumah tangga keluarga Wheatly retak dan berada di ujung tanduk, Mr Wheatly keluar dari rumah dan tidak kunjung pulang, Mrs Wheatly semakin menjadi pendiam dan sangat cuek kepada Beth, dan Mrs Wheatly juga sedikit sakit-sakitan. Hal ini semakin membuat Beth rindu dengan catur, dia ingin mengikuti turnamen catur tingkat distrik. Karena Beth tidak memiliki uang, Mrs Wheatly juga tidak peduli dengan permintaan Beth tentang catur, Beth mengirim surat kepada Mr Shaibel untuk meminjam uang pendaftaran turnamen bernilai 5 dolar, dia berjanji mengembalikan 10 dolar apapun hadiah yang dia peroleh. Beth mendapatkan uang itu dan langsung mendaftarkan diri. Beth sangat diremehkan saat pendaftaran, dia tidak memiliki pengalaman apapun dalam turnamen, sehingga dia ditempatkan diurutan paling bawah, melawan perempuan juga. Tapi hanya dalam beberapa menit Beth mampu mengalahkan lawan mainnya itu.

Babak demi babak Beth lewati dengan sangat epik, dia memenangkan seluruh pertandingan penyisihan. Di babak semifinal dia bertemu Townes, orang yang menghargainya sejak pertama kali bertemu dan mengakui kehebatan Beth saat Beth mampu mengalahkan Townes. Beberapa hari sebelum final Mrs Wheatly mendapatkan kabar bahwa dia telah diceriakan oleh Mr Wheatly, dia tidak lagi mendapatkan nafkah, tapi dia juga enggan berpisah dengan Beth. Mrs Wheatly bilang bahwa dia mungkin gagal menjadi istri, tapi dia ingin mencoba menjadi ibu yang lebih baik untuk Beth. Hal ini membuat Beth semakin bersemangat memenangkan Turnamen distrik. Oh iya, tentang pil penenang Beth kembali kecanduan, karena Mrs Wheatly ternyata membeli pil tersebut untuk membantu menyembuhkan penyakitnya, Beth mengambil setengah obat tersebut saat perjalan pulang dari apotik. Hari pertandingan final tiba, Beth kesulitan mengalahkan Harry sang juara distrik, Beth sempat berhenti di tengah permainan untuk meminum pil penenangnya, dan akhirnya Beth mampu mengalahkan Harry.

Beth membawa pulang hadiah uang senilai 100 dolar, dari sinilah Mrs Wheatly mendukung Beth bertanding catur. Mrs Wheatly membantu Beth untuk izin dan mengikuti turnamen di luar kota, dan Mrs Wheatly pun menjadi manager Beth. Pertandingan demi pertandingan dimenangkan oleh Beth, Beth bertumbuh menjadi pecatur profesional yang hebat.
***bersambung

sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/The_Queen%27s_Gambit_(miniseries)

 Apa yang aku suka dari series ini?
- Series ini ringan, cerita mengalir apa adanya, nggak terlalu banyak neko-neko dan berfokus pada kehidupan sehari-hari Beth. Belajar banyak dari Beth, sudah yatim sedari kecil, sering diremehkan, sering diabaikan dan sering sendirian, tapi dia bisa menemukan dunianya sendiri, menemukan ikigainya dalam permainan catur. Salut dengan karakter Beth yang mampu mengubah kekurangan yang dia miliki menjadi suatu kekuatan yang tiada tanding. 
- Terkesan dengan akting yang dibawakan Anya Taylor-Joy, dia bisa menggambarkan dengan epik seorang Beth yang bertumbuh dan mendewasa dari umur 15 sampai umur sekitar 24 tahun.
- Terkesan dengan karakter Beth yang mandiri, tangguh dan tentunya sangat tekun dalam menjadikan catur sebagai ikigai dan jalan hidupnya.
- Aku suka dengan kekeluargaan yang diusung dalam series ini, apalagi di bagian akhir series, kekeluargaannya sangat terasa.

Pelajaran apa yang aku dapatkan dari series ini?
- Sayangilah keluarga kita dengan sebaik mungkin sebelum kita kehilangan mereka selamanya.
- Hargai setiap waktu dengan baik, terutama waktu mudamu, ketika kamu mendedikasihkan hidupmu pada jalan yang baik maka lakukan itu sebaik mungkin, seprofesional mungkin.
- Hargai pertemanan dengan baik, jangan terlalu tertutup, ingatlah bahwa dunia ini adalah tentang bagaimana kita menghargai ketulusan orang lain, ingat untuk berterima kasih.
- Dalam berteman juga jangan lupa tetap berhati-hati, jangan sampai teman yang salah dan tidak sejalan pemikirannya dengan kita membuat kita terjerumus dalam penyesalan.
- Anggaplah orang lawan sebagai musuh dalam suatu permaian, tapi saat kita telah dikalahkan hargai kemenangan musuhmu itu dan berusahalah menjadi teman bagi musuhmu bila telah ada diluar arena.
- Keluarga adalah mereka yang selalu ada dan mau membantu saat kita membutuhkan dan begitupun sebaliknya, kita ada dan mau menolong saat mereka membutuhkan kita.
- Bila kita mengiginkan sesuatu, perjuangkalah dan tekunilah sesuatu tersebut, harus keseluruhan diri kita masuk kedalamnya, memfokuskan waktu kita untuk menekuninya, jangan setengah-setengah.



Ngaos Jum'at Pagi - Menghidupkan Malam Hari Raya Idul Fitri

Jum'at, 30 Ramadhan 1447H Ngaji Jum'at Pagi Masjid Baitussaid Talok Perbedaan adalah rahmat, justru jika saling menyalahkan tidak se...