Wednesday, September 21, 2022

Resume Jurnal Statistik Inferensial (Pertemuan Keempat)

 


Judul Jurnal : THE EFFECT OF BASIC MATHEMATICAL ABILITIES ON LEARNING OUTCOMES OF PHYSICS EDUCATION STUDENTS

DOI

Kebaharuan Jurnal :

Riset ini dilakukan untuk mengidentifikasi efek dari kemampuan matematika dasar dalam proses belajar fisika dalam sub pembelajaran Metode Pengukuran. Subjek yang diteliti adalah para mahasiswa sarjana semester empat Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia. Penelitian ini didasarai observasi dari proses belajar Metode Pengukuran dan kemudian dilakukan riset eksperimental. Metode untuk pengumpulan data pada riset ini adalah dengan cara memberikan soal test kepada para subjek (mahasiswa) setelah pembelajaran dilakukan.

Konsep kebaharuan jurnal ini adalah berfokus dalam analisis kemampuan matematis para mahasiswa pendidikan fisika yang dinilai masih kurang baik. Dimana pemahaman matematika dalam proses pembelajaran ilmu fisika sangat dibutuhkan. Matematika sebagai bahasa yang abstrak mampu menjelaskan rumus fisika dengan lebih gamblang. Meskipun fisika juga harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, namun dalam pemahaman konsep dalam rumus fisika sangat dibutuhkan pemahaman matematik yang baik.

Metode Penelitian :

Metode yang dilakukan dalam riset ini adalah dengan digunakan set soal yang dijadikan instrumen uji. Subjek yang diuji adalah mahasiswa pendidikan fisika semester empat yang terdiri dari tiga kelas. Sampel yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 88 mahasiswa. Pada tahap awal setiap kelas diberikan tes kemampuan dasar matematika untuk mengetahui sejauh mana pemahaman matematis para mahasiswa. Kemudian, di akhir perkuliahan, para mahasiswa diberikan tes hasil pembelajaran untuk mengetahui pemahaman mahasiswa terhadap kuliah yang diberikan. Oleh karenanya, penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas berupa kemampuan dasar matematis dan variabel terikat berupa hasil pembelajaran.

Metode Pengolahan Data :

Instrumen tes yang digunakan dalam riset ini ada dua jenis, yaitu tes kemampuan dasar matematika dan tes hasil pembelajaran. Data hasil tes dianalisis dengan software SPSS 17. Tahapan pertama pengolahan data adalah dilakukan uji prasyarat, yaitu test normalitas dan tes linearitas pada variabel bebas dan variabel terikat. Hasil dari tes normalitas adalah terdapat nilai untuk variabel kemampuan dasar matematika adalah 0,06. Kemudian nilai untuk variabel hasil pembelajaran adalag 0,123. Sehingga disimpulkan bahwa kedua variabel yang dipelajari telah memliki distribusi data yang normal. Kemudian untuk hasil tes linieritas pada penelitian ini adalah 0,351. Maka kedua variabel yang ada menunjukkan hubungan yang linear. Setelah dilakukan tes normalitas dan tes linearitas, dilakukan analisis regresi.



 

Nama : Fithrotul Azizah

NIM : 220321810697

Prodi : Magister Pendidikan Fisika

Wednesday, September 14, 2022

STATISTIK UNTUK PENGUJIAN RELIABILITAS : JENIS UJI TEST-RETEST

 Halo teman-teman semua, selamat datang di laman materi Uji Test-Retest Reliabilitas.

Perkenalkan, saya Fithrotul, kali ini sebagai anggota pemateri dari kelompok kedua.

Berikut saya kirim link-link yang bisa teman-teman akses untuk mempermudah diskusi kita pada pekan ketiga ini. 

Silahkan disimak dan ditanggapi.

LINK MAKALAH

LINK PPT

LINK YOUTUBE

Terima kasih atas perhatiannya.


Sunday, September 11, 2022

Esai Pertemuan Pekan Ke Dua Statistika Inferensial

                    

Esai Pertemuan Pekan Ke Dua Statistika Inferensial

Nama : Fithrotul Azizah

NIM   : 220321810697

Kelas  : B


Berikut adalah catatan yang saya ambil dari empat subab materi yang ada dalam pertemuan pekan kedua. 


Desain between-subjects (atau between groups) adalah konsep uji yang menyesuaikan dengan kondisi dari masing-masing personal yang dihadapi. Sehingga setiap orang hanya dihadapkan pada satu penguji. Jadi misalkan ada sepuluh siswa yang akan diuji pemahaman fisika dalam bidang termodinamika, maka peneliti harus menyediakan sepuluh penguji yang berbeda untuk masing-masing siswa.

Desain within-subject adalah konsep yang menggunakan jenis uji yang sama untuk semua kondisi pada personal yang sama. Jadi misalkan ada sepuluh siswa yang akan diuji pemahaman fisika dalam bidang hukum newton, kemudian peneliti ingin menguji pemahaman terhadap hukum 1 newton, hukum 2 newton dan hukum 3 newton. Maka peneliti hanya membutuhkan tiga penguji pada setiap jenis hukum newton. Kemudian setiap peserta diarahkan untuk mendatangi ketiga peguji tersebut secara bergantian.  

Setiap jenis riset yang melibatkan lebih dari satu kondisi yang dijadikan acuan uji maka harus menentukan salah satu jenis uji, antara desain between-subjects atau desain within-subject.

 

Untuk mengetahui teknik analisis yang bisa dipergunakan dalam penelitian, hal pertama yang dilakukan adalah menentukan topik yang akan diteliti. Kemudian dilakukan pengkajian teori dari topik yang diambil, dilakukan pula analisis yang memungkinkan untuk topik tersebut. Kemudian mengumpulkan variabel penelitian yang terkait, sehingga didapatkan gambaran dasar mengenai jenis teknik analisis yang digunakan, antara teknik analisis kuantitatif atau kualitatif. Kemudian dilanjutkan dengan penggunaan jenis uji statistik yang sesuai dengan pengolahan variabel penelitian dengan topik serta permasalahan terkait.

 

The r family of effect size measures dan The d family of effect size measures

Konsep dasar dari perbedaan keduanya adalah, d family didasarkan pada perbedaan standar rata-rata dan untuk r family berdasarkan ukuran kekuatan asosiasi yang didapatkan. Secara konsep, d family of effect size didasarkan pada komparasi antara perbedaan observasi yang dilakukan, tidak dibandingkan terhadap standar deviasi dari observasi tersebut. Ini artinya Cohen d =1 adalah standarisasi perbedaan antara dua kelompok yang sama akan tetapi tetap dalam satu lingkup standar deviasi. Kemudian untuk r family of effect size didasarkan pada proposri varian yang dijelaska oleh anggota dalam grup ( contoh, sebuah korelasi dari r = 0,5 mengindikasikan 25% dari varian perbedaan dalam kelompok).

 

Mengetahui jenis pengukuran variabel adalah hal yang sangat krusial dalam menjalani sebuah penelitan. Hal ini dikarenakan data yang kita peroleh tidak akan memberikan dampak apapun bila tidak kita olah dan kemudian kita kaji lebih lanjut. Pengolahan data penelitian yang diperoleh memuat banyak variabel yang masih bersifat abstrak dan multi-tafsir. Oleh karenanya diperlukan penafsiran statistik inferensial yang tepat guna menghimpun kesimpulan yang terjabarkan dengan jelas.


Wednesday, September 7, 2022

Jurnal Statistik Inferensial (Pertemuan Kedua)

 Judul Jurnal : Framework for Evaluating Statistical Models in Physics Education Research

DOI: 10.1103/PhysRevPhysEducRes.17.020104  


Kebaharuan (Novelty) dari jurnal :

Ranah riset pendidikan fisika semakin berkembang terutama dalam ranah pengembangan berfikir kritis, evaluasi metode statistik dan pengembangan teknologi pembelajaran. Sejak tahun 2019 jurnal Physical Review telah mengumpulkan metode kuantitatif yang telah teruji dalam bidang riset pendidikan fisika di Amerika. Terungkap ada efek yang muncul akibat banyaknya pengembangan riset yang dilakukan untuk pengaplikasian metode belajar berbasis mesin. Banyak siswa yang merasa terbebani dalam penggunaan mesin pembelajaran tersebut dikarenakan siswa terlalu disibukkan dalam uji prediksi (pretest dan postes) dibanding penjelasan terhadap konsep materi belajar.

Jurnal ini melakukan pengujian lebih lanjut mengenai efek dari mesin pembelajaran dalam penyampaian materi pendidikan fisika, penyajian proses manajemen data, model evaluasi dan cara menyampaikan hasil. Tujuan penelitian ini adalah untuk (i) mengetahui mana murid yang ingin keluar dari peminatan fisika, (ii) murid mana yang membutuhkan perhatian lebih dalam belajar fisika dan (iii) jenis pola pembelajaran yang membantu murid mempersiapkan diri untuk tingkat universitas. Untuk itu jurnal ini mereview bagaimana model statisik yang telah digunakan dalam riset pendidikan fisika dan mendeskripsikan cara kerja model statistik dan mesin pembelajaran yang telah diperbaharui dan dievaluasi.

Kerangka penelitian yang digunakan berlandaskan hasil riset pendidikan fisika yang telah dikumpulkan, kemudian dikombinasikan dengan pengembangan statistika dan mesin pembalajaran yang dikembangkan oleh penulis. Pemodelan yang digunakan penulis adalah model agnostik yang akan tetap bekerja pada model linier tradisional dan akan bekerja dengan lebih kompleks dalam model mesin pembelajaran. Kesimpulannya, penulis menyajikan dua studi kasus sekaligus: (i) menggunakan data set Learing About STEM Student Outcomes (LASSO); dan (ii) menggunakan data dari Colorado Learning Attitudes about Science Survey for Experimental Physics(E-CLASS). Kedua studi kasus tersebut menunjukkan pentingnya menilai kemampuan prediksi melebihi batasan yang ada dalam riset pendidikan fisika kuantitatif sebelumnya.

 

Analisis Statistik :

Bagan pengembangan jenis regresi yang harus dipertimbangkan dalam riset pendidikan fisika :


Dalam Jurnal ini penulis menggunakan tiga metode berbeda untuk menyampaikan model regresi. Metode tersebut digunakan untuk mengestimasi hasil dari respon variabel y, yang didasarkan pada beberapa kovariat x. Di dalam kasus LASSO, y sebagai hasil post-tes, sedangkan dalam kasus E-CLASS y  adalah variabel biner yang menunjukkan siswa tersebut mengikuti pembelajaran tingkatan tertentu.

(1) Regresi Ordinary least squares (OLS)


(2) Regresi Hierarki Linier

(3) Gradient Boosting



Nama : Fithrotul Azizah

NIM : 220321810697

Prodi : Magister Pendidikan Fisika

 

 

Tuesday, December 28, 2021

Kim Ji-Yeong Lahir 1982


Judul :  82년생 김지영 (Kim Ji-Yeong Lahir 1982)

Penulis : 조남주 (Cho Nam-joo)

Alih Bahasa : Iingliana

Ini adalah judul buku pertama yang saya baca dari penulis Korea. Berisi tentang seorang wanita Korea yang hidup dalam lingkungan patriarki. Kisah yang disuguhkan penulis merefleksikan keresahan para perempuan yang selama ini terbungkam. Imaji lingkungan mengarahkan bahwa semua kesulitan yang dialami perempuan sudah dianggap sebagai "fitrah"nya para perempuan. Intinya buku ini adalah tentang refleksi dari segala kesulitan yang perempuan aalami, tidak hanya bagi perempuan Korea, tapi perempuan di belahan dunia lainnya.  Pada akhirnya kita para pembaca dituntut untuk merenung sejenak, bagaimana lingkungan yang kita tempati sekarang? Apakah sudah lebih baik? Apakah sama saja? Ataukah lebih mengekang?

Alur dari novel ini adalah alur maju, meskipun di bagian pembukaan menampilkan latar tahun 2015, tetapi di bab selanjutnya disajikan alur runtut dari tahun 1982 sampai tahun 2016. Pada awal bagian, dikisahkan Kim Ji-yeong (pemeran utama) sedang mengalami krisis emosi pasca melahirkan. Badannya yang lelah ditambah beban mental yang bertumpuk-tumpuk menyebabkan Ji-yeong terkadang menjadi orang lain di depan suaminya Jeong Dae-hyeon. Karena kejadian-kejadian aneh pada diri Ji-yeong semakin sering terjadi, maka Dae-hyon memutuskan untuk menemui psikiater.

Kemudian cerita dilanjutkan pada kenangan masa kanak-kanak Ji-yeong (1982-1994), masa remaja Ji-yeong (1995-2000), masa saat Ji-yeong kuliah dan bekerja (2001-2015) dan masa saat Ji-yeong menikah dengan Dae-hyeon (2012-2015). Melihat runtutan cerita yang bertahap dari tahun ke tahun secara tereperinci membuat pembaca merasa seperti menikmati sebuah biografi dari seorang Ji-yeong. Akan tetapi secara tidak langsung pengalaman-pengalaman yang diperoleh Ji-yeong bisa jadi juga dialami oleh banyak wanita di Korea bahkan di banyak belahan dunia bagian lainnya. Hal ini karena dalam perjalanan hidupnya Ji-yeong sering kali dinomor dua kan hanya karena dirinya perempuan. Ji-yeoang sering kali diharuskan mengalah karena dirinya perempuan. Ji-yeong dituntut memahami dan menanggung banyak hal karena dia perempuan.

Selain membahas mengenai kisah hidup Ji-yeong yang berjuang menghadapi dunia patriarki yang tidak adil, novel ini juga membahas mengenai kehidupan wanita-wanita lain disekitar Ji-yeong. Contoh tokoh wanita yang ikut diceritakan adalah Oh Mi-sook, ibu Kim Ji-yeong. Dalam sesi mengenai ibu Ji-yeong ini dikisahkan Mi-sook saat muda diharuskan bekerja untuk memenuhi kehidupan saudara laki-lakinya dan menyekolahkan saudara laki-lakinya utuk mengangkat derajat keluarga. Kemudian saat saudara laki-lakinya sudah sukses Mi-sook diharuskan menikah dan mengabdi kepada keluarga suaminya.

Kim Ji-yeong memang bila dibandingkan dengan ibunya sedikit lebih beruntung karena bisa mengenyam pendidikan sampai jenjang perkuliahan dan dapat bekerja kantoran sebelum dia menikah. Akan tetapi di saat kuliah dan kerja pun kehidupan Ji-yeong tetap terasa sulit hanya karena dia perempuan. Contohnya saja saat bekerja Ji-yeong tidak bisa ikut dalam tim perencanaan hanya karena dia perempuan, padahal kinerjanya jauh lebih baik dibanding rekan kerjanya yang laki-laki. Kemudian saat telah menikah dan Ji-yeong tetap bekerja, banyak sekali yang mencibir Ji-yeong karena seharusnya perempuan yang telah menikah, terutama yang telah hamil tidak boleh keras kepala dengan tetap bekerja.

Masih banyak permasalahan-permasalahan lain yang dihadapi Kim Ji-yeong dan wanita-wanita lainnya dalam novel ini. Kemudian bagian akhir dari novel ini benar-benar masih menyisakan pertanyaan besar, yaitu apakah Kim Ji-yeong dapat sembuh? Tidak ada jawaban pasti, pembaca diminta untuk merenungkan sendiri.


sumber sampul : https://books.google.co.id/books?id=2EnEDwAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_ge_summary_r&cad=0#v=onepage&q&f=false 

Monday, May 10, 2021

Keteguhan Janji Seorang Pemabuk


Judul : Janji

Penulis : Tere Liye

Tahun : April, 2021


(Buku berjudul Janji ini ditulis oleh Tere Liye, sekarang masih tersedia di google play book saja.) 


Novel ini disajikan dengan sudut pandang orang ketiga sebagai pencerita. Novel ini sejatinya berkisah tentang perjalanan hidup seorang pria bernama Bahar Safar. Akan tetapi penyampaian perjalanan hidup Bahar dimediasi oleh tiga orang santri yang ditugaskan oleh sang Buya (julukan Kyai di daerah Sumatra) untuk mencari keberadaan Bahar Safar. 


Cerita diawali oleh kenakalan tiga orang santri yang bernama Hasan, Kahar dan Baso. Ketiga santri tersebut dengan sengaja menambah garam kedalam teko minuman untuk rombongan presiden yang menggelar kampanye di pondok. Kemudian Buya mengetahui bahwa dalang dibalik minuman asin ini adalah tiga sekawan tersebut. Karena Buya adalah seorang guru yang berpegang teguh bahwa dia tidak akan mengeluarkan santri dengan alasan apapun, maka Buya memberikan sebuah hukuman spesial bagi tiga sekawan pembuat onar tersebut. 


Hasan, Kahar dan Baso diberikan hukuman spesial oleh Buya yaitu mencari keberadaan Bahar. Bahar adalah alumni pesantren empat puluh tahun lalu, yang dikeluarkan dari pesantren oleh Buya yang sebelumnya karena dia memicu kebakaran di area pesantren hingga membuat seorang santri meninggal dunia. Bahar adalah anak yang sangat nakal, hobinya adalah mabuk-mabukan, berjudi dan berkelahi. Akan tetapi setelah mengeluarkan Bahar, Buya justru bermimpi sangat aneh sekaligus spesial. Sang Buya bermimpi bahwa Bahar memiliki suatu yang sangat spesial dan mulia. Kemudian setelah Bahar pergi sang Buya berusaha mencari Bahar sepanjang hayatnya, hingga dia berpesan kepada anaknya (Buya yang sekarang) agar terus mencari Buya. Buya telah berusaha mencari Bahar kemanapun, begitu pula anaknya, tapi tidak pernah membuahkan hasil. 


Buya memberikan tugas kepada tiga sekawan untuk mencari Bahar karena mereka sama-sama nakal, berjiwa pemberontak dan ingin segera bebas dari penjara suci (pesantren). Nah, tiga sekawan itu diberikan hukuman ini sangat girang, karena jika mereka mampu menemukan Bahar, maka mereka mendapat tiket jaminan lulus dari Buya. Dibekali uang dan beberapa catatan oleh Buya, ketiga sekawan tersebut memulai misi mencari Bahar. Kemudian cerita dilanjutkan dengan simpul-simpul pencarian Bahar melalui orang-orang yang pernah berjumpa dan menjadi kolega Bahar. 


Disini penulis mengisahkan perjalanan hidup seorang Bahar yang mana dia berasal dari keluarga miskin, yatim-piatu, pemabuk dan nakal. Bahar digambarkan oleh penulis sebagai seorang pemuda yang sangat muak dengan kehidupan, dia ingin melampiaskan segala beban dengan mabuk dan berjudi. Tapi dalam diri Bahar ada titik dimana hati nuraninya dididik oleh pendidikan serta ilmu agama dari pesantren. Hati nurani tersebut bisa membuat Bahar berteguh pada janji yang telah dia ucapkan pada sang Buya sebelum dia melangkah keluar dari pesantren. 


Penulis menggambarkan perubahan Bahar dari seorang prmabuk menjadi seorang yang dipenuhi kebaikan dan keagungan akhlak karena janji yang telah dibuat tersebut. Bahar dikisahkan rela melakukan apapun, rela mengorbankan banyak hal dan rela berpindah-pindah keadaan demi memegang janji serta menebus kesalahan di masa lalunya. Sebenarnya Bahar tidak ingin menjalankan janji tersebut, tapi pada saat dia ingin melupakan janji tersebut hati nurani nya memaksa Bahar untuk menepati janjinya itu. 


Dari kisah Bahar kita dapat mengambil banyak pembelajaran berharga. Tentang bagaimana seharusnya kita bersikap pada tetangga kita, belajar dari Bahar sejauh mana dia berkorban demi tetangganya. Tentangga yang bahkan memandang Bahar sebelah mata, tapi Bahar tetap ringan tangan membantu. Kemudian Bahar selalu menjadi pembela bagi mereka yang tertindas tanpa memperdulikan bagaimana masa lalu orang yang dia bantu. Tambahkan lagi, Bahar selalu berkata jujur kepada siapapun. 


Kisah Bahar dan segala cobaan besar yang menimpanya membuat tiga sekawan tadi (termasuk kita para pembaca) tertampar akan realita dan belajar bagaimana melihat dunia ini dengan lebih bijak. Dikutip dari kesimpulan yang dikatakan oleh Kahar, yaitu : 

"Kita selalu bisa memilih, bersabar atau marah. Bersyukur atau ingkar. Bahkan saat situasi itu memang menyakitkan, boleh jadi tetap ada kebaikan disana. Dan orang-orang yang memang sabar dan bersyukur, dia akan memilih mengingat hal-hal yang baik dibandingkan yang menyakitkan."


Saturday, May 8, 2021

Monolog Malam

Malam itu, di sudut paling tidak masuk akal untuk diam sendirian. Dia terpekur menatap kosong langit tak bertepian. Monolog malam itu dimulai, ditemani keheningan malam yang sungguh tak nyaman. 

... 

"Apakah aku memang sedang di buang oleh keadaan yang aku ciptakan sendiri?"

 ... 

"Mungkin karena aku terlalu angkuh terhadap keadaan yang bahkan belum tentu bisa aku taklukkan."

... 

"Tapi bukankah aku sudah berusaha dan terus berusaha?"

... 

"Sungguh aku terlalu banyak berangan dan lupa memijak tempat yang aman."

... 

"Kemana aku akan pergi setelah semua kekacauan yang aku buat ini?"

... 

"Kembali pulang, tapi apakah pulang akan menyembuhkan luka dan malu yang aku miliki?"

... 

Itulah kalimat demi kalimat yang sedang dia gumakan pada dirinya sendiri. Runtutan pertanyaan dan pernyataan sepihak. Membuat siapa saja yang tak paham bisa kacau balau argumentasinya dalam semalam. Dia memang diam, tapi sungguh, di dalam dirinya sangat kacau. Satu pertanyaan muncul, beberapa pernyataan mencerca pertanyaan itu. Kemudian hadir lagi pertanyaan baru, diikuti rutukan baru, diikuti penyesalan baru. Ah, sungguh pilu mendengar semua keramaian itu. Dikatakan pilu karena keramaian itu terbungkus rapi dalam keheningan serta tetes air mata sunyi. 

... 

Kegelisahan dan keraguan yang dibungkus keheningan sungguh mematikan. Ditambah ketakutan akan banyak hal akan membuat dia semakin kalut dan berantakan. Maka dia harus segera disadarkan oleh nurani yang berkata lirih namun jernih. Perlahan dia mengusap air mata dan mulai mendengarkan nuraninya bicara. 

... 

"Allah tak mungkin membebankan sesuatu yang tidak bisa ditanggung hamba-Nya."

... 

"Keputusan Allah pasti yang paling baik, tolong jangan kamu ragukan keputusan-Nya."

... 

"Berusaha lagi, iringi dengan do'a yang semakin keras di sepertiga malam dan di waktu-waktu yang mustajab."

... 

"Ayolah, hidup kita bukan hanya di dunia, masih ada alam selanjutnya yang akan kamu hadapi."

... 

"Allah selalu memberikan ujian dan itu tanda cinta-Nya kepada hamba-Nya."

... 

"Pulanglah, ridho Allah ada beserta ridho dari kedua orang tua."

... 

Hening kembali menyelimuti jiwanya yang sedang kelam. Air matanya menetes hingga membasahi bajunya. Apa boleh dikata, sekuat-kuatnya dia berusaha untuk sadar, pasti masih ada beberapa kekecewaan yang membutuhkan pelampiasan. Tapi sungguh dia mencoba menarik sesimpul senyuman. Senyuman terima kasih pada Allah karena masih memberikan kekuatan pada nuraninya untuk berbicara. 

... 

"Baiklah, mari menangis untuk malam ini, mari habiskan segala penyesalan itu."

... 

"Aku sadar semua penyesalan ini percuma, tapi paling tidak aku sadar Allah selalu sayang sama aku."

... 

"Lain kali mari berusaha dengan dosis yang tepat, usaha dan do'a berjalan beriringan."

... 

"Semoga esok Allah kembali memberi kesempatan yang baik bagi ku untuk berjuang dengan lebih keras."

... 

"Mari berdamai dengan penyesalan dan kegagalan masa lalu."

... 

"Terima kasih ya sudah berjuang sejauh ini, selepas ini mari berjuang lagi."

... 

Akhirnya dia memeluk dirinya sendiri, dia membungkus dirinya dengan kehatangan tangan yang memeluk pundaknya sendiri. Dia terima sekaligus menangisi kegagalan dengan lapang dan berusaha tersenyum atas segala kenyataan. Dia mulai melangitkan do'a demi do'a yang dia yakini pasti didengarkan oleh Tuhan. Dia kembali mensyukuri segala apa yang dia punya dan berusaha mempertahankan senyuman sambil terus mengusap air mata. 

Ngaos Jum'at Pagi - Menghidupkan Malam Hari Raya Idul Fitri

Jum'at, 30 Ramadhan 1447H Ngaji Jum'at Pagi Masjid Baitussaid Talok Perbedaan adalah rahmat, justru jika saling menyalahkan tidak se...