Wednesday, May 3, 2023

Pertemuan ke - 15 : Asesmen Scientific Reasoning

 

Judul jurnal : Practicing abductive reasoning: The correlations between cognitive factors and learning effects

DOI

Latar Belakang :

Desain pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk melatih kemampuan penalaran sangat penting untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Sampai saat ini, penalaran abduktif, induktif, dan deduktif dianggap sama pentingnya untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa, tetapi hanya sedikit game yang dirancang untuk melatih penalaran abduktif. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, kami merancang sebuah game bernama V-aquarium untuk siswa SMP untuk melatih penalaran abduktif sambil mempelajari pengetahuan sains. Untuk mengeksplorasi keefektifan permainan, dengan menggunakan penalaran abduktif, kami mencoba memahami korelasi antara keingintahuan epistemik, kelelahan kognitif, nilai pembelajaran yang dirasakan, dan kemajuan permainan.

 

Permasalahan yang relevan :

Penalaran abduktif dapat dipahami sebagai proses akuisisi pengetahuan; namun, ketika fitur permainan menghasilkan upaya kognitif, apa yang dianggap melelahkan ketika bermain game dengan penalaran abduktif masih belum jelas. Oleh karena itu, bagaimana kelelahan kognitif mempengaruhi permainan V-aquarium, dengan penalaran abduktif, dieksplorasi dalam penelitian ini.

 

Kebaharuan :

Penelitian oleh Claus, Bo, dan Saeema (2019) menggunakan penalaran abduktif sebagai pola untuk menghasilkan ide. Wang dan Shu (2016) menyelidiki penerapan penalaran abduktif dalam penelitian investigasi penyebab kebakaran. Penelitian-penelitian tersebut, yang terkait dengan penalaran abduktif, difokuskan pada inferensi tetapi tidak melibatkan perancangan game edukasi. Oleh karena itu, penelitian ini merancang sebuah game bernama V-aquarium. Permainan ini melibatkan pengetahuan ilmiah dan mengharuskan siswa sekolah menengah pertama untuk menyimpulkan jawaban; mereka diberikan tiga elemen untuk menghasilkan jawaban. Selain itu, kami juga menyelidiki bagaimana kinerja permainan siswa dan variabel lain berinteraksi dengan penalaran abduktif mereka.

Penelitian ini menerapkan konsep ini pada game mobile; oleh karena itu, dalam penelitian ini, dua jenis epistemic curiosity akan merefleksikan kinerja para gamer.

Persepsi siswa tentang nilai pembelajaran saat mereka memainkan game dengan penalaran abduktif belum banyak dieksplorasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami persepsi siswa tentang pembelajaran bermakna dengan bermain V-aquarium.


Cara bermain :

        Desain game edukasi ini adalah agar semua orang dapat belajar sambil bersenang-senang. Permainan V-aquarium memungkinkan pemain untuk membangun akuarium V mereka sendiri (contoh pada Gbr. 3) dan menghiasinya dengan rumput laut, seperti yang ditunjukkan pada Gbr. 4. Semua dekorasi ini merupakan bagian dari pembelajaran bagi para pemain, karena mereka diberikan penjelasan singkat tentang setiap dekorasi sebelum membelinya. Dekorasi, misalnya pelet ikan dan ikan kecil (untuk memberi makan organisme laut mereka), dapat dibeli di toko game menggunakan koin yang diberikan untuk setiap level yang diselesaikan. Koleksi ikan para pemain dapat bertambah, dan mereka akan naik level setelah diberi makan dengan makanan atau organisme laut (misalnya Ubur-ubur atau Teripang), seperti yang ditunjukkan pada Gbr. 5.

Gambar 1. Topik bahasan yang diberikan 

Gambar 2. Layout game penalaran abduktif 

Gambar 3. V-aquarium

Gambar 4. Rumput laut untuk dekorasi V-akuarium 

Gambar 5. Organisme laut untuk dimasukkan ke dalam akuarium V

Hasil dan kesimpulan :

    Sebanyak 307 data valid dikumpulkan untuk analisis konfirmasi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa dua jenis keingintahuan epistemik (tipe minat dan tipe kekurangan) secara negatif terkait dengan kelelahan kognitif tetapi secara positif terkait dengan nilai pembelajaran yang dirasakan dari permainan; kepenatan kognitif tidak secara signifikan terkait dengan kemajuan gameplay tetapi secara positif terkait dengan nilai pembelajaran yang dirasakan dari gameplay. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa guru dapat menggunakan V-aquarium untuk memasukkan konten pembelajaran yang telah mereka ajarkan kepada siswa untuk mempraktikkan penculikan untuk meningkatkan pembelajaran pengetahuan sains siswa.


Nama : Fithrotul Azizah

NIM   : 220321810697


Tuesday, May 2, 2023

Tuesday, April 25, 2023

Pertemuan ke-Empat belas : Asesmen Scientific Argumentation

 

Judul jurnal : Facilitating Argumentation in the Laboratory: The Challenges of Claim Change and Justification by Theory

Link jurnal 

Latar belakang :

Argumentasi ilmiah adalah strategi utama yang digunakan siswa untuk memahami konten dan prosedur pembelajaran berbasis inkuiri. Dalam argumentasi ilmiah, siswa membuat klaim yang didukung dengan bukti dan menunjukkan alasan mengapa bukti itu mendukung klaim yang dibuat. Mengintegrasikan berbagai aspek argumentasi ilmiah dapat menjadi suatu tantangan bagi siswa, terutama jika mereka diharuskan untuk mengajukan klaim untuk mengakomodasikan bukti-bukti baru.

Permasalahan yang relevan :

Dalam konteks sains, keterampilan argumentasi dihadapkan pada tantangan ekstra untuk menerapkan konsep atau teori ilmiah yang dipahami di tingkat dasar untuk mendukung atau menjustifikasi bukti-bukti. Hasilnya yaitu, ketika siswa telah memahami konsep argumentasi, mereka akan menyampaikan data mereka sebagai bukti dengan pendekatan yang umum, dan tidak merasionalisasi penggunaan bukti tersebut untuk mendukung klaim yang mereka buat. Hal yang paling sulit bagi siswa adalah aspek sanggahan dalam argumentasi ilmiah, terutama jika mereka harus mengubah klaim untuk mengakomodasikan bukti atau ide baru.

Solusi yang ada :

Penelitian yang berfokus pada argumentasi grup telah menunjukkan beberapa perilaku umum di berbagai konteks yang secara general membuktikan bahwa siswa kesulitan untuk memperhatikan ketiga aspek argumentasi bahkan ketika diberi kesempatan. Umumnya, siswa akan membuat klaim, tetapi kadar klaim tersebut didasarkan pada teori sains atau bukti yang cukup valid atau bermakna berbeda-beda. Berland dan Reiser menggambarkan penjelasan siswa yang berbeda dalam tingkat bukti vs kesimpulan dan pernyataan persuasif. Siswa menggunakan bukti dalam pembuatan pengertian pribadi tetapi tidak dapat menyampaikannya kepada audiens di luar "jawaban yang benar". Kuhn menemukan bahwa sifat sosial dari argumentasi merupakan kunci dalam merepresentasikan visi sains yang lebih akurat. Para peneliti secara keseluruhan menyarankan agar para peneliti mempertimbangkan epistemologi: investigasi tentang apa yang membedakan klaim yang dibenarkan dari opini.

Solusi yang ditawarkan :

Penelitian tentang argumentasi mahasiswa yang disajikan dalam penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian tentang argumentasi pada umumnya karena penelitian ini dilakukan pada mahasiswa tingkat sarjana, dan bukan pada siswa sekolah menengah atau sekolah menengah pertama. Selain itu, penelitian ini tidak difokuskan pada individu, tetapi melihat kemampuan sekelompok mahasiswa untuk menggunakan kaidah wacana ilmiah melalui penggunaan secara berulang-ulang untuk melakukan argumentasi ilmiah. Mata kuliah laboratorium yang spesifik pada suatu disiplin ilmu memberikan konteks yang unik untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berpartisipasi dan mengembangkan kemahiran dalam praktik-praktik ilmiah yang dibutuhkan dalam suatu disiplin ilmu, termasuk dalam berargumentasi. Penggunaan laboratorium untuk memfasilitasi pengembangan argumentasi mahasiswa didukung oleh pernyataan bahwa observasi dan eksperimen bukanlah landasan di mana ilmu pengetahuan dibangun, tetapi keduanya merupakan jalan menuju kegiatan rasional untuk menghasilkan argumen dalam mendukung klaim pengetahuan.

Tujuan penelitian :

Studi ini meneliti argumentasi mahasiswa dalam rangkaian laboratorium kimia dasar selama dua semester di sebuah universitas terkemuka yang melayani mahasiswa minoritas di Midwest, yang menggunakan model instruksional Argument-Driven Inquiry (ADI) untuk pengajaran di laboratorium. Penelitian yang disajikan di sini menggunakan data video dan wawancara untuk mengamati siswa dalam rangkaian laboratorium kimia dasar selama dua semester untuk menentukan elemen argumentasi mana yang paling menantang bagi siswa, terlepas dari instruksi dan scaffolding yang diberikan.

Pendekatan ADI terdiri dari langkah-langkah berikut yang berlangsung selama 4 minggu untuk kelas laboratorium yang biasa dilakukan sekali seminggu:

(1) kegiatan pra-laboratorium untuk persiapan investigasi yang memberikan instruksi langsung tentang teknik dan peralatan;

(2) dosen memperkenalkan tugas dan memberikan pertanyaan pemandu;

(3) siswa bekerja dalam kelompok untuk menguraikan metode pengumpulan dan analisis data yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan pemandu;

(4) siswa melaksanakan rencana investigasi dan mengumpulkan data;

(5) siswa menganalisis data mereka dan mengembangkan argumen sementara (klaim yang didukung oleh bukti dan pembenaran dari bukti tersebut);

(6) siswa berbagi argumen dan mengkritisi argumen rekan-rekan mereka selama sesi argumentasi;

(7) setiap siswa menulis laporan investigasi;

(8) laporan tersebut akan melalui tinjauan sejawat secara double-blind; dan

(9) siswa diberi kesempatan untuk merevisi dan menyerahkan laporan mereka kepada instruktur untuk dievaluasi.

Laporan akhir diserahkan pada minggu ke-4 dari siklus tersebut. Percobaan-percobaan tersebut saling tumpang tindih sehingga langkah 1, 2, dan 3, yang merupakan minggu ke-1 lab kedua, dilakukan pada periode lab yang sama dengan langkah 8, yaitu minggu ke-3 lab pertama.

Pengumpulan data :

Sesi argumentasi (langkah 5 dan 6) direkam untuk investigasi pertama dan terakhir di laboratorium kimia dasar (GC1 dan GC2) pada setiap semester.  Keempat asesmen Scientific Argumentation dijelaskan dalam Tabel 1. 

Sesi argumentasi (langkah 6) melibatkan pembagian kelompok inti menjadi 2-3 anggota keliling dan satu anggota penyaji. Para anggota yang berkeliling biasanya mengunjungi 2-3 papan tulis sehingga terbentuklah kelompok sementara dengan penyaji (lihat Gambar 2).


Nama : Fithrotul Azizah

NIM   : 220321810697

S2 Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang

Essay Pertemuan ke - Tigabelas : Asesmen Kreatifitas



Nama : Fithrotul Azizah 

NIM : 220321810697

Link Canva

Wednesday, April 12, 2023

Pertemuan ke Tigabelas : Asesmen Creativity

 

Judul : Promoting And Assessing Creativity And Innovation In Physics Undergraduates

Permasalahan yang relevan :

Kemampuan berpikir kreatif dan kemampuan untuk berinovasi adalah keterampilan penting dalam karir industri dan akademis. Terdapat usaha untuk menumbuhkan keterampilan kreatif dalam dunia bisnis, tetapi masih sedikit penelitian yang dilakukan dalam lingkup fisika. Secara khusus, hanya ada beberapa instrumen yang tersedia bagi pendidik yang hendak menilai kreativitas siswa fisika mereka, sehingga sulit untuk mengetahui apakah instruksi yang diberikan berpengaruh atau tidak.

Solusi yang sudah ada :

Ada sejumlah contoh terkemuka dalam bidang industri dimana perusahaan dan para eksekutif melakukan upaya yang disengaja untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi pada karyawan mereka. Upaya semacam itu jauh lebih jarang terjadi dalam pendidikan K-20, fisika atau lainnya. Memang, banyak yang berpendapat bahwa sistem pendidikan yang ada cenderung memadamkan kreativitas para siswa. Upaya untuk mengatasi kreativitas dan/atau inovasi dalam PER jarang terjadi, mungkin sebagian karena kurangnya pilihan untuk menilai kreativitas (meskipun penilaian kreativitas telah muncul selama penilaian pemecahan masalah).

Solusi yang ditawarkan :

Dalam penelitian ini, peneliti menguraikan sebuah mata kuliah pilihan baru di Colorado School of Mines di jurusan fisika yang dirancang untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi di jurusan fisika. Dalam penelitian ini, peneliti menyajikan upaya-upaya yang telah dilakukan untuk menilai mata kuliah ini secara formatif dengan menggunakan tablet PC dan perangkat lunak InkSurvey, dan secara sumatif dengan menggunakan Torrance Tests of Creative Thinking yang bersifat independen dari disiplin ilmu. Kami juga menjelaskan penelitian awal untuk mengembangkan instrumen khusus fisika untuk mengukur kreativitas.

Instrumen dan data :

Dalam setiap pengujian terhadap mata kuliah ini, kami memberikan Tes Berpikir Kreatif Torrance [5] sebelum dan sesudah pembelajaran. Tes Torrance adalah salah satu dari sedikit instrumen yang tervalidasi dengan baik untuk mengukur kreativitas [9], dan tidak bergantung pada jenis disiplin ilmu. Instrumen ini tersedia dalam format verbal dan figural. Dalam format verbal, siswa dihadapkan pada beberapa tugas yang melibatkan jawaban tertulis, membuat daftar pertanyaan dan hipotesis. Versi figural dari tes Torrance mengharuskan siswa membuat dan memodifikasi gambar dengan berbagai cara. Penilaian masing-masing dilakukan dengan rubrik standar. Jawaban dinilai berdasarkan jumlah (kelancaran), keaslian, detail (elaborasi), dan kecenderungan untuk berpindah-pindah di antara kategori yang berbeda (fleksibilitas), disertai dengan beberapa faktor minor lainnya. Mata kuliah tingkat dasar mendapatkan tes figural, dan mata kuliah tingkat atas mendapatkan tes verbal.


Nama : Fithrotul Azizah

NIM : 220321810697

S2 Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang

Wednesday, April 5, 2023

ASSESSMENT CRITICAL THINKING : Subab 2

Halo teman-teman.... Selamat datang dalam sharing materi perkuliahan Penilaian Autentik dalam Fisika. Kali ini saya Fithrotul Azizah dari kelompok 2 akan menyampaikan materi untuk subab Syarat Penyusunan Asesmen Berpikir Kritis. Berikut saya kirimkan link materi yang dapat teman-teman akses. Mari belajar bersama! :)

Link Makalah 

Link PPT 

Link Video Presentasi 


Terima Kasih 


Nama : Fithrotul Azizah 

NIM   : 220321810697

Ngaos Online 1 Ramadhan 1447 PP Al Azkiya

Wahai anakku, nasihat itu mudah. Tapi yang sulit itu adalah menerima nasihat.  ( Imam Ghazali ) Sebagai santri, buku yang kita baca, ilmu y...